Oleh: PPK Karangdadap | Desember 4, 2011

Partai Nasional Aceh

12-partai-nasional-aceh

Para pendiri Partai adalah murid dan pengikut yang setia dari almarhum Dr. Tengku Hasan Muhammad di Tiro, proklamator Gerakan Aceh Merdeka yang mendukung perjanjian perdamaian dengan pemerintah RI yang dikenal dengan MoU Helsinki.

Kami dari unsur ulama, Panglima Wilayah, Korps Diplomatik (negosiator GAM), eks kombatan alumni Libya, eks kombatan lokal, eks anggota pasukan Inong Balee, Perwakilan masyarakat Aceh di dalam dan luar negeri, aktivis, mahasiswa/mahasiswi, jurnalis dan pemuda/pemudi Aceh, yang juga mempunyai pengalaman menjalankan roda pemerintahan Aceh/Pemerintahan Kab/Kota sampai tingkat Geuchik, adalah penggerak ide pertama Partai.

Pada akhir 2010 terbentuklah sebuah wadah politik sebagai tempat berhimpunnya rakyat dalam memperjuangkan aspirasi dan kepentingannya melalui mekanisme dan jalur yang sah/legal, yang bernama: Partai Nasional Aceh (PNA); resmi terdaftar dan dideklarasikan pada tanggal 04 Desember 2011 yang merupakan titik awal dalam upaya menata kembali kehidupan rakyat Aceh yang demokratis, adil, sejahtera dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Tatanan kehidupan yang demikian menjadi peluang bagi mencapai masa depan rakyat Aceh yang gemilang.

Partai ini didirikan pada 24 April oleh mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf. Pada saat pendaftaran itu, Irwandi Yusuf sendiri tidak hadir. Mereka yang datang ke Kanwil Depkumham Aceh untuk menyerahkan dokumen persyaratan pendirian partai antara lain, Irwansyah alias Teungku Mukhsalmina (Mantan Panglima GAM Aceh Rayeuk), Muharram Idris (mantan Ketua KPA Aceh Rayeuk), Ligadinsyah (mantan juru bicara Partai Aceh/mantan Panglima GAM Linge), Amni bin Ahmad Marzuki (mantan juru runding GAM), Tarmizi, Lukman Age dan Thamren Ananda (mantan Sekjen Partai Rakyat Aceh). Proses pendaftaran ditandai dengan penyerahan dokumen kelengkapan persyaratan yang dilakukan oleh Mukhsalmina dan diterima oleh Kepala Divisi Administrasi pada Kanwail Depkumham Aceh, Syamsul Bahri.

Partai Nasional Aceh berlambang sebuah bintang putih besar yang dilingkari dua untaian padi di sisi kiri dan kanan dan masing-masing untaian padi terdiri dari 17 butir. Bintang besar warna putih memiliki pengertian sebagai cita-cita yang tinggi. 17 Butir padi pada masing-masing untaian teritorial sejarah perjuangan Aceh serta bermakna kemakmuran dan kesejahteraan. Sedangkan bintang besar melambangkan sebuah tumpuan harapan bagi rakyat Aceh yang bisa menerangi rakyat Aceh. Warna oranye dipilih karena bermakna kejayaan, keagungan, kebersamaan, dan kekuatan. Lima bintang kecil di atasnya memiliki pengertian sebagai lima rukun Islam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: